Sorong Today – Perjuangan menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman berbuah manis bagi Via Luftiatun Nabila.
Putri pasangan petani asal Purwokerto Jawa Tengah itu berhasil meraih predikat lulusan terbaik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Via merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah IAIN Sorong. Ia menyelesaikan masa studinya dalam waktu 3 tahun 6 bulan 3 hari.
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena kedua orang tua Via, Suhud dan Yulimah, rela menempuh perjalanan jauh dari Purwokerto menuju Sorong untuk menyaksikan langsung putrinya diwisuda.
Keduanya bahkan datang menggunakan kapal laut dari Surabaya menuju Sorong demi menghadiri momen penting dalam perjalanan pendidikan sang anak.
Via menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan XX dan Wisuda Pascasarjana Angkatan IX IAIN Sorong, yang digelar di Aula IAIN Sorong, Kota Sorong, Kamis (20/8/2026).
Bagi Via, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang angka IPK 4,00. Di baliknya terdapat perjalanan panjang seorang anak dari keluarga sederhana yang berani meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan di tanah Papua.
Saat ini, Via juga telah mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik. Ia mengajar di salah satu sekolah yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), tepatnya di Distrik Fef, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Merantau dari Purwokerto ke Sorong
Dalam kesempatannya menyampaikan pesan sebagai wisudawati terbaik, Via memperkenalkan dirinya sebagai putri dari Suhud dan Yulimah.
Ia mengaku, jika harus menggambarkan pengalaman selama menjadi mahasiswa di IAIN Sorong dalam satu kata, maka kata yang paling tepat baginya adalah “tumbuh.”
“Tumbuh dalam ilmu, pengalaman, cara berpikir, dan tentu saja tumbuh sebagai pribadi yang mandiri,” ujar Via.
Empat tahun lalu, pada 2022, Via datang dari Purwokerto, Jawa Tengah, menuju Kota Sorong untuk menempuh pendidikan tinggi.
Ia datang ke lingkungan yang benar-benar baru. Tidak hanya jauh dari keluarga, Via juga harus beradaptasi dengan lingkungan, budaya, serta kehidupan sosial yang berbeda dari daerah asalnya.
Memulai kehidupan sebagai mahasiswa di tempat yang jauh dari kampung halaman bukanlah perkara mudah.
Ia harus mengenal lingkungan baru, membangun pertemanan dari awal, beradaptasi dengan suasana yang berbeda, serta berani keluar dari zona nyaman.
Namun, keputusan memilih IAIN Sorong perlahan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Via mengenal IAIN Sorong melalui tantenya. Selain itu, keberadaan program beasiswa menjadi salah satu alasan yang membuatnya berani melanjutkan pendidikan di Papua.
Berasal dari keluarga sederhana dengan kedua orang tua yang bekerja sebagai petani, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri.
“Awalnya IAIN Sorong adalah tempat yang asing bagi saya. Saya mengenalnya dari tante saya, sekaligus melihat adanya peluang beasiswa yang dapat membantu saya mewujudkan keinginan untuk kuliah tanpa terlalu membebani orang tua,” tuturnya.

Dengan penuh keberanian, Via meninggalkan keluarga dan datang ke tanah yang jauh dari kampung halaman.
“Saat itu saya hanya membawa harapan dan keyakinan. Namun hari ini saya menyadari bahwa keputusan untuk memilih IAIN Sorong bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari jalan yang Allah pilihkan untuk saya,” katanya.
Via juga menyampaikan apresiasi kepada IAIN Sorong yang telah menjadi tempatnya belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bangku kuliah.
Ucapan terima kasih secara khusus ia sampaikan atas kesempatan memperoleh Beasiswa KIP Kuliah.
Menurutnya, KIP Kuliah bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya mampu melanjutkan studi hingga memperoleh gelar sarjana.
“Bagi saya, beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. KIP Kuliah telah menjadi salah satu hal yang sangat membantu saya untuk dapat terus menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana,” ujarnya.
Ia juga tidak melupakan teman-teman yang telah menemani perjalanan perkuliahannya.
Menurut Via, masa kuliah tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik, tetapi juga dengan berbagai cerita, tawa, perjuangan, dan pengalaman yang akan menjadi kenangan sepanjang hidup.
Ia berharap persahabatan yang terbangun selama berada di bangku kuliah tetap terjaga meskipun setelah wisuda setiap orang akan menempuh jalan masing-masing.
Bagian paling mengharukan dari pesan Via adalah ketika menyampaikan penghormatan kepada kedua orang tuanya.
Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Mama dan Bapaknya yang rela menempuh perjalanan jauh dari Purwokerto untuk hadir di acara wisudanya.
“Terima kasih Mama dan Bapak karena sudah menyempatkan waktu jauh-jauh datang dari Purwokerto untuk datang di acara wisuda saya,” ucap Via.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas doa yang tidak pernah putus, pengorbanan yang mungkin tidak selalu ia lihat sepenuhnya, serta kepercayaan yang diberikan kedua orang tuanya selama menempuh pendidikan jauh dari rumah.
“Terima kasih Mama dan Bapak atas doa yang tidak pernah putus, atas setiap pengorbanan yang mungkin tidak pernah saya lihat sepenuhnya, dan atas kepercayaan yang selalu Mama dan Bapak berikan kepada saya untuk terus mengejar cita-cita,” tuturnya.
Menjadi mahasiswa, kata Via, bukan perjalanan yang selalu mudah.
Ada hari-hari ketika dirinya merasa lelah menghadapi berbagai tugas. Ada kecemasan saat menjalani proses bimbingan, serta berbagai tantangan yang terkadang membuatnya bingung dan harus kembali menguatkan diri.
Namun, seluruh proses tersebut akhirnya mengantarkannya pada hari yang membanggakan.
Hari ketika kedua orang tuanya menyaksikan langsung putri mereka berdiri sebagai lulusan terbaik IAIN Sorong dengan IPK sempurna 4,00.

Sementara itu, Rektor IAIN Sorong, Suparto Iribaram menyampaikan bahwa sebanyak 162 peserta mengikuti wisuda pada pelaksanaan tersebut. Mereka terdiri atas lulusan program sarjana dan pascasarjana.
Rinciannya, sebanyak 72 wisudawan berasal dari Fakultas Syariah dan Dakwah, kemudian 74 wisudawan dari Fakultas Tarbiyah, serta 16 wisudawan program pascasarjana.
Suparto berharap seluruh lulusan dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menjalani pendidikan di IAIN Sorong di tengah masyarakat.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh para lulusan tidak boleh berhenti setelah mereka menerima ijazah. Pengetahuan tersebut harus mampu diaplikasikan untuk memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat.
Ia berharap para lulusan mampu berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, termasuk mendorong pemanfaatan potensi ekonomi dan sumber daya alam secara baik.
“Harapan kami dari Institut Agama Islam Negeri Sorong bahwa para lulusan yang hari ini sudah menyelesaikan pendidikan dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang sudah didapatkan selama mereka mendapatkan pendidikan,” ujar Suparto Iribaram.

Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menyentuh kehidupan masyarakat dan menjadi bagian dari proses perubahan yang memberikan manfaat lebih luas.
Menariknya, dari ratusan lulusan yang dikukuhkan, terdapat 44 lulusan IAIN Sorong yang menyelesaikan studi tanpa skripsi.
Para mahasiswa tersebut menyelesaikan persyaratan kelulusan melalui publikasi hasil riset pada jurnal bereputasi.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan sistem akademik yang memberikan alternatif bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir berbasis publikasi ilmiah.
Selain berbicara mengenai lulusan, Rektor IAIN Sorong Suparto Iribaram juga mengungkapkan komitmen kampus untuk mempercepat proses transformasi dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
Menurut Suparto, proses menuju perubahan status tersebut membutuhkan strategi dan kesiapan sumber daya manusia.
Salah satu perhatian utama adalah penguatan kualitas sumber daya manusia, termasuk peningkatan jumlah dan kapasitas guru besar yang profesional di bidang masing-masing.
“Untuk percepatan IAIN menjadi UIN ini, kami tentu sangat konsen dan berusaha keras untuk bagaimana bisa menuju ke status IAIN menjadi UIN,” kata Suparto.
Ia menegaskan, perubahan status menjadi universitas harus diikuti kesiapan institusi, terutama dari sisi sumber daya manusia agar mampu menjalankan tanggung jawab akademik yang lebih luas.
Karena itu, penguatan tenaga akademik dan guru besar menjadi salah satu tahapan penting yang terus didorong.
Menurutnya, kesiapan sumber daya manusia akan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan ketika IAIN Sorong nantinya bertransformasi menjadi UIN.

Kisah Via Luftiatun Nabila menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi keluarga bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Berangkat dari keluarga petani di Purwokerto, Via memilih merantau ribuan kilometer ke Sorong. Ia mendapatkan kesempatan melalui KIP Kuliah, menyelesaikan pendidikan dengan prestasi akademik tertinggi, kemudian memilih mengabdikan ilmunya sebagai guru di wilayah 3T di Fef, Kabupaten Tambrauw.
Prestasi IPK 4,00 menjadi bukti keberhasilannya secara akademik. Namun, keputusan untuk mengajar di daerah 3T menunjukkan bahwa perjalanan Via tidak berhenti pada seremoni wisuda.
Ia kini membawa ilmu yang diperolehnya di IAIN Sorong untuk diberikan kembali kepada masyarakat, khususnya anak-anak di daerah yang membutuhkan tenaga pendidik.
Di balik toga dan predikat lulusan terbaik itu, terdapat kisah seorang anak petani yang berani merantau jauh, mendapatkan beasiswa, menghadapi berbagai tantangan, dan akhirnya mampu membanggakan kedua orang tuanya.
Bagi Via, perjalanan tersebut bukan hanya tentang meraih gelar sarjana. Ini adalah tentang tumbuh, berjuang, dan memberi manfaat. (AZHARU RAHMAT)
Tidak ada komentar