Sorong Today – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPPLH) Kota Sorong menggelar Pelatihan Pembuatan Eco-Enzyme bagi masyarakat hukum adat sekaligus menyerahkan bibit tanaman sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penghijauan dan pelestarian lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gereja GBAI Kota Sorong ini dibuka oleh Kepala Dinas DPPLH Kota Sorong, Corina Mansawan, yang diwakili oleh Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Ivon Kalami.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan penabuhan tifa bersama sebagai simbol dimulainya pelatihan yang melibatkan masyarakat hukum adat dari berbagai wilayah di Kota Sorong.
Sebanyak 55 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Kegiatan menghadirkan narasumber dari Eco-Enzyme Nusantara Wilayah Papua Barat Daya yang memberikan materi dan praktik langsung mengenai pembuatan eco-enzyme dari limbah organik rumah tangga.
Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Ivon Kalami menyampaikan bahwa sebagian besar sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat setiap hari berupa sampah organik atau limbah dapur. Apabila tidak dikelola dengan baik dan berakhir di tempat pembuangan sampah, limbah tersebut berpotensi menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu penyumbang pemanasan global.
Menurutnya, pengolahan limbah organik menjadi eco-enzyme merupakan salah satu solusi sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk tanaman, pengendali hama, hingga bahan baku produk ramah lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin masyarakat melihat bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Dengan pengolahan yang tepat, limbah dapur dapat memberikan manfaat bagi lingkungan maupun kehidupan sehari-hari,” ujar Ivon Kalami.
Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir kegiatan. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan di lingkungan keluarga dan disebarluaskan kepada masyarakat sekitar sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Lebih lanjut, Ivon menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen DPPLH Kota Sorong dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Selain pelatihan pembuatan eco-enzyme, DPPLH Kota Sorong juga menyerahkan bibit tanaman kepada seluruh peserta. Bibit yang dibagikan terdiri dari jambu kristal, mangga madu, dan rambutan yang diharapkan dapat ditanam di pekarangan rumah maupun lingkungan sekitar.
Menurut Ivon, pembagian bibit tanaman tersebut menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim dan pencegahan pemanasan global. Saat ini, dampak perubahan iklim mulai dirasakan masyarakat melalui kondisi cuaca yang semakin panas dan tidak menentu.
“Melalui penanaman pohon, kita tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan kehidupan bagi berbagai makhluk hidup. Pohon yang tumbuh akan menjadi sumber oksigen, tempat hidup satwa, serta memberikan manfaat bagi manusia dalam menjaga kualitas udara dan keseimbangan ekosistem,” katanya.
Ia menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui edukasi semata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Oleh karena itu, pelatihan eco-enzyme yang dipadukan dengan pembagian bibit tanaman diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam pengelolaan sampah dan penghijauan lingkungan.
“Kegiatan ini merupakan langkah positif untuk membangun kesadaran bersama dalam mencintai dan menjaga lingkungan. Melalui aksi sederhana seperti mengolah sampah organik dan menanam pohon, kita telah berkontribusi dalam menjaga bumi untuk generasi yang akan datang,” tutup Ivon Kalami.
Melalui kegiatan tersebut, DPPLH Kota Sorong berharap tercipta budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memperkuat peran masyarakat hukum adat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup di Kota Sorong. (***)
Tidak ada komentar